Bisakah proses pilkada dki putaran kedua berjalan aman ?

Dalam hitungan hari putaran kedua Pilkada DKI  akan berlangsung . Suasana terasa sudah mencekam . Ada issu sara yang berpotensi meledak . Ada issu atau black campaign yang menakutkan . Kebakaran melanda daerah 2 kumuh perumahan rakyat kecil di Jakarta. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal , kehilangan harta benda sedangkan lebaran akan segera tiba , tapi mereka harus mengungsi ke tenda 2 . Isak tangis dan teriakan anak2 yang kedinginan dan kelaparan menyeruak kelobang telinga di tenda2. Apakah ini negeri neraka ?. Dalam waktu kurang lebih sebulan terjadi 30 kali musibah kebakaran .Apa artinya ini ? Chalayak  tidak mengerti , kita ini akan memilih pemimpin atau saling menghujat atau mengadu domba rakyat dan menyengsarakannya. Kita ini berdemokrasi dalam negara yang Panca Sila atau melakukan perebutan kekuasaan dengan cara apapun .Terlihat kita jauh mundur kebelakang dalam berdemokrasi . Demokrasi yang kita lakukan ini ialah demokrasi palsu .Demokrasi mafia . Demokrasi jahat , yang tak sesuai dengan tujuan demokrasi itu sendiri . Rakyat kita provokasi dengan isu 2 yang menyebarkan kebengisan , memecah belah persatuan dan menjatuhkan martabat negara dimata dunia yang beradab .Apa artinya kita dapat memilih pemimpin tapi rakyat saling cakar2-an bahkan mungkin akan saling membunuh. Rakyat sekarang memang sudah putus asa dengan penguasa yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Rakyat ingin pemimpin yang bersimpati akan nasibnya . Bukan hanya menjadikan mereka pion2 untuk kepentingan elite politik dan penguasa .Semoga pihak penyelenggara pilkada dki dapat meminimalisir hal negatif yang mungkin akan terjadi dalam putaran kedua ini. Dan keamanan di Jakarta tetap bisa terjamin .

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hari kemerdekaan RI yang ke 67 ini merupakan hasil perjuangan dan dharma bakti para pahlawan yang tak mungkin terlupakan.

mamaderka

Verifikasi KPU belum keluar yang menyatakan Partai Nasdem lolos  dan bisa ikut Pemilu 2014. Tetapi Partai Nasdem lewat Ketua Umum Patrice Rio Capella  telah sesumbar akan mencari caleg untuk Pemilu 2014 . Dan juga ditambahkan bahwa  Halida Hatta putri proklamator RI , telah menjalin  komunikasi dengan Nasdem untuk menjadi caleg . Memang keberadaan dan performance Nasdem mendapat tempat dihati masyarakat . Idea restorasi yang digaungkan oleh Nasdem mendapat acungan jempol  kaum muda . Dalam waktu singkat sayap organisasi Partai Nasdem baik garda pemuda , maupun malahayati dan liga Mahasiswa Nasdem segera hadir diseluruh propinsi ditanah air . Ini sungguh satu hal yang menggembirakan . Tetapi yang tidak menggembirakan  ialah dampak dari pernyataan Ketua Umum Partai Patrice Rio Capella , yang sesumbar akan memberi atau membiayai caleg Nasdem sebesar  Rp. 5 milyar sampai Rp. 10 milyar per orang . Akibat pernyataan ini ada pihak yang tak senang lalu menuding …

Lihat pos aslinya 86 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI


Oleh: Dr. Saafroedin Bahar (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA – Staf Pengajar Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pasca Sarjana UGM)
Saya sangat senang memperhatikan bahwa akhir-akhir ini terdapat peningkatan minat secara terbuka terhadap sejarah pemberontakan PRRI, khususnya dalam kaitannya dengan sejarah daerah Sumatera Barat serta sejarah suku bangsa Minangkabau. Di Rantau Net ini demikian banyak postings dari para netters mengenai aspek-aspek tertentu PRRI, baik mengenai pengalaman pribadi dari beliau-beliau yang pernah ikut terlibat, maupun berbagai interpretasi dan rasionalisasi terhadap pemberontakan tersebut.. Dalam rangka peluncuran dua buah buku yang memuat himpunan tulisan wartawan Suwardi Idris tentang pengalaman beliau mengikuti PRRI di daerah Solok, beberapa waktu yang lalu bertempat di Studio TVRI Padang telah diadakan talkshow mengenai PRRI ini, yang diikuti oleh beberapa tokoh Sumatera Barat, antara lain budayawan senior Wiswan Hadi, wartawan senior Basril Djabbar, sejarawan Dr Gusti Asnan. Talkshow tersebut ditayangkan ulang di TVRI Pusat. Dari Ibu Warni Darwis, Wakil Sekjen Gebu Minang, saya mendapat khabar bahwa Bp Abdul Samad, seorang tokoh pejuang PDRI dari Bukittinggi, yang juga ikut pemberontakan PRRI, baru-baru ini tampil di TVRI Pusat menjelaskan pengalaman beliau dalam PRRI tersebut.
Saya menganggap peningkatan minat terhadap sejarah PRRI ini baik dan wajar. Memang sudah waktunya sejarah PRRI ini dibedah secara mendasar dan mendalam. Saya pernah mengkuti pembahasan masalah PRRI ini — sebagai pembicara bersama Kolonel Pur. Ventje Sumual — di kampus Universitas Indonesia, Depok, dan di The Habibie Center, Jakarta. Minggu lalu, di Apartemen #2724 Pomontory Circle di San Ramon, Cal, USA, saya berbincang-bincang semalam suntuk dengan Inyiak Sunguik Sjamsir Syarif yang telah menjalani hampir seluruh Sumatera Barat sewaktu mengikuti pemberontakan PRRI ini sebagai orang dekat dengan Bp Mohammad Natsir. Saya sungguh-sungguh mendorong beliau untuk menuliskan pengalaman beliau tersebut agar dapat dibaca oleh generasi demi generasi bangsa Indonesia pada umumnya dan suku bangsa Minangkabau pada khususnya.
Sungguh menarik untuk diperhatikan, bahwa walaupun cakupan aksinya pada taraf awal juga meliputi daerah-daerah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, serta terkait erat dengan pemberontakan Permesta yang meliputi daerah Sulawesi Utara – namun memang hanya di daerah Sumatera Barat dan terhadap suku bangsa Minangkabau saja dampak kekalahan pemberontakanPRRI ini demikian mendalam. Tidak berkelebihan kiranya jika dikatakan bahwa walaupun pemberontakan PRRI terutama berkenaan dengan masalah politik, yaitu hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam rangka proses panjang integrasi nasional di Indonesia, namun masyarakat Minangkabau memandangnya lebih dari itu, yaitu dari perspektif sosio kultural, dengan akibat yang lebih parah, yaitu sampai patah semangat dan berlarut-larut sampai sekarang. . Saya tidak melihat dampak yang sama pada suku bangsa Batak atau suku bangsa Menado yang juga terlibat dalam pemberontakan yang sama.
Sekedar sebagai catatan dapat saya sampaikan bahwa gejala patah semangat berlarut-larut setelah kalah perang ini sama sekali bukanlah gejala baru. Seperti ditulis Kolonel KNIL Soegondo, komando tentara kolonial Hindia Belanda telah mencatat gejala yang sama sewaktu menghadapi Perang Paderi , 1821-1838. Dengan kata lain, gejala patah semangat secara berlarut setelah kalah perang itu adalah refleksi dari masalah kultural yang lebih mendasar. Dalam pengamatan saya secara pribadi, gejala patah semangat tersebut merupakan wujud dari kelemahan mendasar dari tatanan sosial Minangkabau, yang kelihatannya tidak dirancang untuk bersatu, tetapi untuk hidup dalam komunitas kecil-kecil yang saling curiga satu sama lain. Mungkin sekali, gejala patah semangat itu timbul karena tidak yakin akan dibela oleh sanak saudaranya yang lain. [Sangat mirip dengan tatanan sosial dan reaksi orang Arab setelah kalah perang]. Demikianlah, Inyiak Sunguik Syamsir Sjarief menjelaskan bahwa yang paling kejam terhadap PRRI bukanlah ‘tentara Soekarno’ tetapi justru urang awak yang jadi ‘tukang tunjuk’ dan yang menjadi anggota Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR). Saya tahu bahwa yang menjadi anggota OPR ini pada umumnya adalah para preman yang menjadi anggota Pemuda Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digunakan oleh Kodam III/17 Agustus untuk menghadapi pemberontakan PRRI.
Sudah barang tentu secara pribadi saya merasa sangat tertarik untuk mendalami dimensi-dimensi sosio kultural, sosial politik, serta strategi dan taktik militer dari pemberontakan PRRI ini, bukan saja oleh karena saya ditakdirkan lahir dan menjadi dewasa sebagai seorang warga suku bangsa Minangkabau, tetapi juga oleh karena latar belakang pendidikan saya dalam ilmu pemerintahan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan karena karir saya sebagai perwira TNI-Angkatan Darat, yang selama 16 tahun berturut-turut berdinas di daerah Kodam III/17 Agustus, yang mencakup daerah Sumatera Barat dan Riau (1960-1976). Dapat saya sampaikan bahwa saya menyaksikan dari dekat betapa besar perubahan yang dialami daerah Sumatera Barat antara suasana aman tentram sebelum pecahnya pemberontakan PRRI, yaitu pada tahun 1957 sewaktu saya pulang libur sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, dan suasana pasca PRRI, antara tahun 1960-1976, sewaktu saya bertugas sebagai perwira staf Kodam III/17 Agustus di daerah Sumatera Barat dan Riau.
Demikianlah, untuk memenuhi rasa keingintahuan saya tersebut, selama sembilan tahun antara tahun 1987-1996 – di sela-sela kesibukan saya sebagai Tenaga Ahli Lemhannas ( 1983-1989) dan sebagai Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara (1989-1999) — saya mengadakan penelitian untuk menyusun disertasi mengenai pemberontakan PRRI ini dan mempertahankannya di depan Rapat Terbuka Senat Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 25 Agustus 1996, 12 tahun yang lalu. Sebagai saksi sejarah dan sebagai sebuah skrup kecil dalam operasi teritorial pada tahap pasca PRRI, saya sama sekali tidak mempunyai kesukaran dalam mengumpulkan fakta dan data sejarah pemberontakan PRRI serta penumpasannya. Yang jauh lebih sulit adalah mencari rujukan teori dan pendekatan ilmiah yang tepat untuk menjelaskannya. Mengingat demikian banyaknya aspek pemberontakan PRRI ini, adalah jelas bahwa jika kita benar-benar hendak memahami dan memperoleh eksplanasi terhadap pemberontakan PRRI ini, diperlukan suatu pendekatan yang bersifat holistik, bukan pendekatan yang sepotong-sepotong.
Suatu dimensi lain yang layak untuk kita dalami mengenai pemberontakan PRRI ini adalah dimensi hubungan internasionalnya, khususnya peranan Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat, yang telah diungkap secara amat jelas dalam buku Subversion as Foreign Policy oleh suami isteri George McTurnan Kahin dan Audrey Kahin. Saya percaya bahwa bahwa penggalangan intelijen oleh CIA ini – selain oleh karena kurangnya visi strategis oleh para tokoh KDMST — merupakan salah satu faktor penting pecahnya pemberontakan dan kekalahan PRRI ini. Sukar untuk dibantah, bahwa berbaliknya sikap Amerika Serikat dari mendukung PRRI menjadi mendukung Presiden Soekarno dan TNI juga merupakan faktor penting kekalahan PRRI, dengan segala akibat sosio kulturalnya pada warga suku bangsa Minangkabau..
Lagi pula jangan dilupakan suatu akibat tidak langsung dari pemberontakan PRRI ini, yaitu dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, lahirnya Demokrasi Terpimpin, serta berkembangnya PKI, yang kemudian berujung pada rencana kudeta Gerakan 30 September/PKI.
Dengan kata lain, pemberontakan PRRI memang layak didalami, bersisian dengan peristiwa-peristiwa besar nasional lainnya. Juga jangan dilupakan bahwaoleh karena terhadap rencana kudeta Gerakan 30 September/PKI saja sudah berkali-kali didakan seminar, lokakarya, atau sekedar pertemuan, tidak ada alasan mengapa terhadap pemberontakan PRRI ini tidak ada pengkajian serupa.
Hanya ada suatu catatan kecil yang perrlu saya sampaikan, yaitu kecenderungan para sanak kita di Sumatera Barat yang lazim mereduksi peristiwa-peristiwa sejarah nasional yang terjadi di Sumatera Barat menjadi sejarah Sumatera Barat belaka. Lebih kecil lagi, sebagai sekedar sejarah pribadi-pribadi belaka. Saya melihat gejala tersebut sewaktu mengikuti pembahasan tentang sejarah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya saya mengingatkan bahwa PDRI adalah suatu institusi nasional dan sejarah PDRI adalah bagian dari sejarah nasional. Kali ini saya ingin mengingatkan para sanak semua, bahwa sejarah PRRI adalah bagian dari sejarah nasional, dan dengan merujuk pada buku suami isteri Kahin, sejarah PRRI adalah juga bagian dari sejarah internasional Perang Dingin antara Blok Amerika Serikat dengan Blok Uni Soviet.
Kalau begitu, sambil mendorong Inyiak Sunguik Sjamsir Sjarief dan para sanak lainnya untuk menulis pengalaman lapangan masing-masing sewaktu pemberontakan PRRI, apa tak perlu diselenggarakan suatu Seminar Internasional tentang Pemberontakan PRRI ? Bagaimana kalau kita dorong Dewan Perwakilan Daerah RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) , Arsip Nasional RI, Departemen Pertahanan serta Markas Besar TNI-Angkatan Darat, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Lembaga Ketahanan Nasional, Pusat Sejarah TNI, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), tokoh-tokoh sejarah masyarakat Batak dan Menado, termasuk Kolonel Pur Ventje Sumual, dan tokoh senior sejarawan Prof Dr Taufik Abdullah , Prof Dr Salim Said, Prof. Dr RZ Leirissa, serta Dr Audrey Kahin untuk membahas pemberontakan PRRI ini secara holistik ?
Sumber: Milis Rantau Net

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Politisi Kutu Loncat, Soal Hasrat Politik atau Hasrat Uang?

null

Elvan Dany Sutrisno – detikNews
Jakarta Sebanyak 37 anggota DPR dari berbagai parpol akan berpindah ke Partai NasDem. Kalau mereka pindah karena ingin menjadi politisi besar tak masalah, tapi bagaimana kalau mereka berpindah karena hasrat mengejar materi?

“Apakah perpindahan itu karena faktor hasrat politik yang besar untuk mengubah banyak hal, tapi kalau ambisi untuk mencari uang repot itu. Politisi itu bukan mencari uang, tapi hasrat memuaskan ideologis, ada nilai yang diperjuangkan di sana,” kata pengamat politik Hamdi Muluk dalam diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (26/7/2012).

Menurut Hamdi, kalau berpindah partai hanya untuk mengejar gairah berpolitik tidak ada masalah. Dalam arti, politisi ini tergugah untuk mengubah banyak hal dengan parpol yang lebih besar.

“Sepanjang untuk mewujudkan gairah politiknya it’s ok tapi kalau untuk transaksi material, kesempatan korupsi di sana lebih banyak, itu tadi oportunistik apalagi diming-imingi uang , itu rugi sekali. Masyarakat tidak perlu memilih,” kata Hamdi.

Karena itu dia mengingatkan anggota DPR yang ingin hengkang agar mawas diri. Kira-kira apa tujuan mereka pindah partai.

“Yang mau pindah 37 orang itu ya silakan berkaca. Kalau hasrat politik besar dia bisa jadi politisi bisa besar. Tapi kalau sekedar oportunistik agar lahan korupsi besar, itu oportunistik, tamatlah karier mereka,”pungkasnya.

(van/mpr)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Dimana kau Caleg Nasdem ?

Verifikasi KPU belum keluar yang menyatakan Partai Nasdem lolos  dan bisa ikut Pemilu 2014. Tetapi Partai Nasdem lewat Ketua Umum Patrice Rio Capella  telah sesumbar akan mencari caleg untuk Pemilu 2014 . Dan juga ditambahkan bahwa  Halida Hatta putri proklamator RI , telah menjalin  komunikasi dengan Nasdem untuk menjadi caleg . Memang keberadaan dan performance Nasdem mendapat tempat dihati masyarakat . Idea restorasi yang digaungkan oleh Nasdem mendapat acungan jempol  kaum muda . Dalam waktu singkat sayap organisasi Partai Nasdem baik garda pemuda , maupun malahayati dan liga Mahasiswa Nasdem segera hadir diseluruh propinsi ditanah air . Ini sungguh satu hal yang menggembirakan . Tetapi yang tidak menggembirakan  ialah dampak dari pernyataan Ketua Umum Partai Patrice Rio Capella , yang sesumbar akan memberi atau membiayai caleg Nasdem sebesar  Rp. 5 milyar sampai Rp. 10 milyar per orang . Akibat pernyataan ini ada pihak yang tak senang lalu menuding  Nasdem  melembagakan money politik dan melakukkan pembajakkan kader parpol lain.   Ini berita yang merusak citra  dan martabat Nasdem . Sangat disayangkan sekali . Seharusnya hal ini tidak perlu dikeluarkan kepada pers .   Nasdem  bisa diam 2 dan tenang melakukan pencarian caleg yang diperlukan  tanpa ada gangguan berita seperti tersebut diatas . Kerugian kedua dengan peristiwa ini ialah Nasdem diketahui  publik tidak mempunyai kader yang potensial , berintegritas dan berkwalitas . Nasdem mengandalkan kader parpol lain untuk meraih kemenangan dalam pemilu legislatif 2014 nanti .

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Survei Kompas: Partai Demokrat Anjlok, Gerindra dan NasDem Melesat

Indra Subagja – detikNews
 Jakarta Survei Kompas soal parpol pilihan masyarakat mencatat hasil yang mengejutkan. Partai Demokrat (PD) yang menjadi ‘raja’ pada pemilu 2009 lalu ternyata anjlok, bila pemilu digelar saat ini. Partai Gerindra dan pendatang baru Nasional Demokrat (NasDem) terkerek naik.

Seperti dikutip dari Kompas, Selasa (24/7/2012), Litbang Kompas melakukan jajak pendapat pada 16-19 Juli 2012 di 33 ibu kota provinsi. Jumlah responden 1.008 dengan sampling error 3,1 persen.

Soal Parpol, Kompas menyebutkan ada dua pertanyaan yang diajukan kepada responden. Pertama, partai apa yang Anda pilih dalam pemilu 2009 lalu? Dan pertanyaan kedua, jika pemilu diadakan saat ini, partai apakah yang akan Anda pilih?

Hasil Litbang Kompas mencatat, 44,2 persen responden mengaku memilih Partai Demokrat pada 2009 lalu, namun bila pemilu digelar saat ini, hanya ada 12,8 persen yang akan memilih Demokrat.

Bukan hanya Demokrat saja yang turun. Dalam ranah the big three, PDI Perjuangan juga mengalami penurunan, walau tipis. Ada 9,4 responden yang memilih PDI Perjuangan pada pemilu lalu, namun bila pemilu digelar saat ini, hanya 9,1 persen yang memilih PDI Perjuangan.

Sedangkan Golkar, mencatat hasil yang berbeda. Ada 6,2 persen pemilih yang memilih Golkar pada 2009 lalu, dan bila pemilu digelar saat ini, Golkar mengalami kenaikan pemilih menjadi 6,9 persen.

Selain Golkar, yang mencatat kenaikan signifikan adalah Gerindra, pada 2009 lalu mencatat angka 1,5 persen, sedangkan bila pemilu digelar saat ini mencatat angka 6,4 persen. Nah, muka baru Partai NasDem cukup mengejutkan. Pada 2009 nama mereka belum tercatat, tapi bila pemilu digelar saat ini, ada 4,5 persen pemilih yang akan menentukan pilihan pada NasDem.

Yang menarik, dalam survei Kompas ini, ada sekitar 30,8 persen responden yang belum menentukan pilihannya, bila pemilu digelar saat ini. Dan ada 15,3 persen yang tidak memilih.

(ndr/asy)

Dipublikasi di nasdem, partai, survei | Meninggalkan komentar

Caleg external Partai Nasdem ?

Riuh rendahnya berita pencarian caleg Partai Nasdem buat pemilu 2014 ,diluar perkiraan . Hampir setiap media elektronik dan media cetak memuat berita tersebut . Berita tersebut bagai magnet yang menarik para kader2 politik yang ada . Kita tidak tahu apakah para politikus itu tertarik kepada idea restorasi Partai Nasdem , atau pernyataan Ketua Partai Nasdem Patrice Rio Capella yang menyatakan Partai Nasdem akan membiayai kampanye calegnya yang terpilih . Menurut kabar dikatakan  Partai Nasdem akan menyediakan dana kampanye calegnya sampai Rp.  3 trilyun . Setiap caleg akan mendapat biaya kampanye sebesar Rp 5 milyar sampai Rp 10 milyar  tergantung daerah pemilihannya . Dana kampanye yang dibiayai  partai ini merupakan hal baru diperpolitikan  Indonesia.  Selama  ini kader partai harus merogoh sakunya sendiri, atau mencari donatur yang mau menyumbang . Berita pencarian caleg external dari Ketua Partai Nasdem Patrice Rio Capella ini mendapat sambutan dari berbagai kader partai yang ada . Tapi juga mendapat  kritik dan tudingan dari berbagai pihak . Partai Nasdem dituding melembagakan money politik dan melakukan pembajakkan kader partai lain . Ini sungguh berita yang sangat merugikan citra Partai Nasdem. Pada hal keberadaan Partai Nasdem selama ini  disambut gembira berbagai kalangan dan golongan . Yang menjadi pertanyaan kita kenapa Nasdem mencari calegnya dari external ? Apakah Partai Nasdem tidak punya caleg internal yang berintegritas dan berkwalitas ?  Atau kalau tidak ada  kenapa Partai  Nasdem tidak memberikan pendidikan politik buat kadernya dulu , tidak ujug 2 mencari caleg dari external . Kan pemilu masih lama ? Dan juga kenapa pencarian caleg external ini dilakukan secara demonstratif  yang berdampak negatif , tidak diam 2 melakukan pencarian caleg yang diperlukan . Dampak negatif pencarian caleg external ini tidak saja akan menimbulkan perpecahan sendiri nanti di internal partai , tapi juga juga akan menurunkan elektabilitas partai .Langkah yang tidak strategis dan tergesa gesa .

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar